BEM UI Demo di Kantor Gubernur Aceh

Politik

BANDA ACEH – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah organisasi mahasiswa Aceh menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, pada Jumat, 3 Juli 2026. Aksi yang mengusung tagar #AcehPerluBantuanNegara itu menyoroti penanganan masyarakat terdampak bencana di Aceh yang dinilai belum tuntas.

Demonstrasi berlangsung sejak siang hingga sore hari dan sempat memanas ketika massa membakar ban bekas di lobi Kantor Gubernur Aceh. Aparat kepolisian kemudian berupaya memadamkan api untuk mencegah situasi semakin memburuk.

Berdasarkan informasi yang disampaikan panitia aksi, massa mulai berkumpul sekitar pukul 14.00 WIB di Stadion H. Dimurthala, Banda Aceh. Dari lokasi tersebut, peserta melakukan long march menuju Simpang Surabaya sebelum melanjutkan aksi di Kantor Gubernur Aceh di Jalan Teuku Nyak Arief.

Dalam perjalanan menuju lokasi aksi, mahasiswa membawa spanduk, poster, serta bendera organisasi masing-masing. Sesampainya di Kantor Gubernur Aceh, massa secara bergantian menyampaikan orasi yang berisi kritik terhadap penanganan pascabencana serta berbagai persoalan sosial yang dinilai masih dihadapi masyarakat Aceh.

Aksi tersebut diikuti oleh gabungan organisasi mahasiswa dan elemen masyarakat, antara lain:

  • BEM Universitas Indonesia (BEM UI)
  • Dewan Mahasiswa UIN Ar-Raniry
  • Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah (USM)
  • Pemerintahan Mahasiswa Universitas Abulyatama (UNIDA)
  • Aliansi Rakyat Aceh (ARA)

Gabungan organisasi tersebut menyatakan aksi dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat Aceh yang dinilai masih membutuhkan perhatian pemerintah.

Alasan BEM UI Turun ke Aceh

Kehadiran BEM UI dalam aksi tersebut menarik perhatian publik karena demonstrasi berlangsung jauh dari kampus mereka di Depok, Jawa Barat.

Perwakilan BEM UI, Abit, menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Aceh merupakan isu nasional sehingga tidak seharusnya hanya menjadi perhatian masyarakat lokal. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan hak-hak masyarakat yang dinilai belum sepenuhnya memperoleh pemulihan pascabencana.

BEM UI juga menyebut hasil pemantauan mereka di lapangan masih menemukan fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan serta warga yang belum merasakan pemulihan secara optimal.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh. Salah satu fokus utama adalah percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana serta peningkatan perhatian terhadap pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Tuntutan tersebut kemudian dipublikasikan sebagai bagian dari gerakan #AcehPerluBantuanNegara.

Aksi Sempat Memanas

Situasi berubah tegang ketika sebagian massa membakar ban bekas di area lobi Kantor Gubernur Aceh. Massa juga mengibarkan atribut aksi sebagai bentuk protes. Aparat kepolisian kemudian memadamkan api dan melakukan pengamanan agar demonstrasi tetap terkendali.

Sejumlah laporan juga menyebut massa merasa kecewa karena tidak dapat bertemu langsung dengan Gubernur Aceh untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Hingga aksi berakhir, belum seluruh tuntutan mahasiswa mendapat tanggapan langsung dari Pemerintah Aceh di lokasi demonstrasi. Namun, aksi tersebut menjadi perhatian publik dan memicu diskusi mengenai percepatan pemulihan pascabencana serta efektivitas kebijakan pemerintah daerah dalam menangani wilayah terdampak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *